Kamis, 16 Juni 2016

Makalah Filsafat Pancasila



BAB 3
FILSAFAT PANCASILA
A. PENGERTIAN FILSAFAT
Secara etimologis istilah “filsafat” atau dalam bahasa inggrisnya “philosophi” adalah berasal dari bahasa Yunani “philosophia” yang secara lazim diartikan sebagai “cinta kearifan” kata philosophia tersebut berakar pada kata “philos” (pilia, cinta) “Sophia” (kearifan). Berdasarkan pengertian bahasa tersebut filsafat berarti cinta kearifan atau kebijaksanaan.  Berdasarkan makna tersebut maka mempelajari filsafat berarti merupakan upaya manusia untuk mencari kebiujaksanaan hidup yang nantinya bias menjadi konsep kebijakan hidup yang bermanfaat bgi peradaban manusia. Seorang ahli pakar disebut filosof, kata ini mula-mula dipakai oleh Herakeitos.
            Filsafat adalah pandangan hidup seorang atau sekelompok orang yang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
ciri-ciri berpikir filosofi:
1. berpikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi
2. berpikir secara sistematis
3. menyusun skema konsepsi
4. menyeluruh
            Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah:
1.  apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh metafisika
2. apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Etimologi
3. apakah manusia itu? Masalah ini dibahas oleh Antropologi Filsafat.
            Bebrapa ajaran filsafat yan g telah mengisi dan tersi8mpan dalam khasanah ilmu adalah :
a.                   Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran meterialisme ini memiliki dua variasi yaitu materialism dialektik dan humanistis.
b.                  Idealism, yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegensi. Variasi aliran idealism ini subjektif dan idealism objektif.
c.                   Realism, aliran ini berpebndapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi merupakan hakikat yang asli dan abadi.
d.                  Pragmatism, aliran ini berpendapat bahwa paham dalam filsafat tidak bersifat mutlak (absolute) tidak doktriner tetapi relative tergantung pada kemampuan manusia.
Manfaat Filsafat dalam kehidupan :
1.                  Sebagai dasar dalam bertindak.
2.                  Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
3.                  Untuk mengurangi salah paham dan konflik.
1.         PENGERTIAN FILSAFAT MENURUT PARA AHLI
            Orang yang berfilsafat dapat diumpamakan sebagai seseorang yang berpijak dibumi sedang tengadah kebintang-bintang, ia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan alam, karakteristiknya berpikir filsafat yang pertama adalah menyeluruh, yang kedua mendasar.
            Flsafat adalah ilmu yang berusaha mecari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran/rasio belaka. Dibawah ini merupakan pengertian menurut beberapa para ahli.
1)                  Menurut Harun Nasution Filsafat adalah berpikir tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan sedalam-dalamnya sehingga kedasar-dasar persoalan.
2)                  Menurut Plato (427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tengtang segala yang ada.
3)                  Aristoteles ( 384-322 SM ) yang merupaka murid plato menyatakan filsafat adalah menyelediki sebab dan asas segala benda.
4)                  Marcus Tullius Cicero ( 106-43 SM ) filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya.
5)                  Al Farabi ( wafat 950 M ) filsuf muslim terbesar sebelum In Sina menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang akam dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya.
6)                  Imannuel Kant (1724-1804) menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu okok dan pangkal segala pengetahuan yang mencangkup didalamnya
7)                  Harold H.Titus mengemukakan 4 pengertian filsafat adalah (1) sikap tentang hidup dan alam semesta (2)filsafat suatu metode dan pemikiran reflektif dan penyelidikan akliah  (3) filsafat adalah suatu perangkat masalah (4) filsafat suatu perangkat teori atau isi pikiran.
8)                  Prof. Dr. Fuad Hassan guru besar psikologi UI menyimpulkan bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal dalam arti mulai dari suatu gejala dari akar suatu hal yang hendak dimasalahkan dan dengan jalan penjajagan yang radikal filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimulan yang universal.
9)                  Al-Farabi mengatakan bahwa filsafat adalah mengetahui semua yang wujud karena ia wujud, tujuan terpenting mempelajari filsafat adalah mengetahui Tuhan, bahwa ia esa dan tidak bergerak. Wujud selain Allah ialah mahluk yang tidak sempurna.
2 SEJARAH FILSAFAT
            Filsafat yang dibahas dalam tulisan ini mula-mula merujuk pada penelusuran secara historis tentang perkembangan filsafat yyang dimulai pada masa Yuinani Kuno. Dimasa Yunani Kuno pada abad IV – VI SM, anggapan berfilsafat selalu diartikan sebagai upaya manusia dalam mencari kebijaksanaan. Upaya ini sejalan dengan melihat secara etimologis tentang arti filsafat, yaitu philosophia, yang artinya senang, suka (philos) akan kebijaksanaan (shopia). Bagi orang yunani senang akan kbijaksanaan selalu diarahkan dengan kepandaian yang bersifat teoritis dan praktis. Kepandaian bersifat teoritis adalah upaya manusia mencari pengetahuan yang penuh dengan gagasan ide-ide, ataupun konsep-konsep yang sejalan dengan cara atau alam pikiran mereka. Dengan demikian bangsa yunani atau manusia sangat tergantung pada alam pikiran yang bersifat magis bahkan dianggap segala isinya itu hadir diantara mereka.
            Sedang kepandaian yang bersifat praktis adalah upaya mencari pengetahuan yang diarahkan untuk menemukan kegunaan dari pengetahuan itu. Apabila pengetahuan itu bermanfaat ataupun berguna, maka peran ataupun fungsi pengetahuan sangatlah berarti bagi manusia. Bagi bangsa Yunani, pengetahuan praktis adalah pengetahuan yang mendasarkan pada suatu keterampilan dan memiliki tujuan tertentu. Keterampilan atau keahlian itu misalnya membuat bangunan, suatu karya sastra, karya music atau seni suara.
            Dari perkembangan secara historis, bangsa Yunani mengalami perubahan dalam cara berpikir, cara untuk mendapatkan pengetahuan yang berbeda dengan yang telah ada, yaitu mulai mengembangkan daya penalaran yang lebih rasional dan logis. Penalaran tersebut diaktualisasikan atau diwujudkan dengan bentuk mencari sebab terdalam atau “sebab pertama” dari alam semesta ini. Perubahan cara berpikir dari mistis kelogis memunculkan juga pandangan para filsuf yang berusaha menguak rahasia alam dengan berbagai pendapat atau argument tertentu yang lebih rasional. Seperti filsuf Thales yang berpendapat bahwa asas didunia ini adalah air, sedang Anaximandros mengatakan asas itu adalah “yang tidak terbatas” (apeiron) dan Anaximandros menyebut udara adalah asas pertama.
            Masa berikutnya adalah abad pertengahan (middle Ages) masa ini merupaka masa yang berlangsung sekitar abad 9 dan awal masehi itu ditandai dengan munculnya para pujangga Kristen dan mereka mendasarkan pengetahuan keagamaan secara teosentris, artinya dasar pengetahuan manusia diarahkan pada ajaran teosentris atau agama. Pada abad pertengahan terjadi pertukaran kebudayaan antara bansa timur dan bansa barat. Kebudayaan bangsa arab terdapat banyak kebudayaan seperti mewarisi banyak karya Yunani Klasik. Banyak filsuf arab seperti ibnu sina sangat berminat dengan ajaran Aristoteles dan iya memberikan dasar ilmu pengetahuan kedokteran  diBarat.
            Selain abad pertengahan, muncul abad Renaissance (X-XVII) abad ini merupakan abad yang sangat memperhatikan dan berpusat pada kekuatan manusia, tidak hanya kekuatan yang bersifat fisik, melainkan melainkan kemampuan akal budi manusia. Pengertian Renaissance tau kelahiran kembali diartikann sebagai lahirnya kebudayaan Yunani Kuno di Roma. Pada awalnya kebudayaan ini ditandai dengan gerakan kesenian, yaitu yang mencoba menghadirkan kary-karya seni yang bermanfaat atau bergaya Yunani Kuno di Roma. Berbagai karya seni seperti pahat, seni lukis, seni bangunan dll. Gerakan kesenian tersebut juga disebut sebagai Gerakan Humanisme.
Cirri lainnya adalah tampilnya nilai-nilai kemanusiaan, karya seni dilihat secara alamiah atau natural serta nilai keagungan yaitu menampilkan karya seni dalam kemegahan dengan menbangun bangunan ataupun patung, lukisan dll. Dari Gerakan Humanisme in ilah manusia Renaissance mulai mengadakan penyelidikan tentang pengetahuan yang mengarah pada kekuatan alam semesta. Timbul niat untuk menyelidiki pengetahuan  kealaman dengan keinginnan yang sangat besar untuk menguak rahasia alam.
            Abad berikutnya adalah abad Aufklaerung/pencerahan ( XVIII). Puncak kejayaan bangsa eropa ditandai dengan hadirnya masa Aufklaerung. Eksperimentasi yang berlandaskan aspek metodologis dan akademis. Factor akademis yang telah dirintis sejak abad Renaissance memunculkan kaum intelektual dari berbagai universitas dieropa , yang mencoba menggabungkan antara unsur teoritis dengan unsur praktis. Mereka berupaya menginginkan bahwa ilmu pengetahuan yang harus memiliki peran dan berguna bagi orang banyak. Gerakan intelektual berkembang dengan cepat dikawasan eropa seperti inggris, perancis, jerman dan belanda. Salah satu sumbangan bagi kemajuan khasanah ilmu pengetahuan adalah munculnya kaum Ensiklopedis yang berusaha menyusun pemikiran-pemikiran tentang ilmu pengetahuan, kesenian kedalam sejumlah buku dan kelak kemudian lebih dikenal sebagai Ensiklopedi..
            Setelah masa Aufklaerung, muncul masa pasca Aufklaerung yang mulai berlangsung pada abad XXI ini. Abad-abad tersebut ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Ilmu filsafat telah berkembang sebagai ilmu filsafat yang otonom. Artinya memiliki objek, metode aatu pendekatan yang sesuai dengan perkembangan ilmu filsafat tetap berbasis ke-kritisannya dalam menganalisa kajiannya.  Sedangkan ilmu pengetahuan berkembang menjadi 3 kelompok besar yaitu, ilmu pengetahuan kealaman, ilmu budaya, dan ilmu pengetahuan social.   Seiring dengan perkembangan dan kemajuan manusi, maka pendekatan yan g sifatnya kajian lintas ilmu, multi disiplin menyebabkan ilmu pengetahuan satu dengan yang lainnya bekerja sama untuk menghadapi kebutuhan intelektualitas manusia di dunia ini yang semakin kompleks.
3. PEMBAGIAN BIDANG ILMU FILSAFAT
            Dalam tradisi filsafat barat, dikenal dengan adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu :
Ø    Metafisika mengkaji tentang hakikat segala yang ada. Dalam bidang ini, hakikat yang ada dan keberadaan secara umum dikaji secara khusu dalam ontologism.
Ø    Epistemology mengkaji tentang hakikat dan wilaah pengetahuan
Ø    Aksiologi membahas masalah bnilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia
Ø    Etika atau filsafat moral membahas tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak dan mempertanyakan bagaimana kebenaran dari dasar tindakan itu dapat diktahui.
Ø    Estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya.
A.Sonny Keraf membedakan filsafat menjadi 5 cabang besar : (1) metafisika (2) epistimologi (3) etika (4) logika (5) estetika.
Aristoteles memasukan kedalam bidang filsafat : logika, etika, estetika, psikologi, filsafat politik, fisika dan metafisika. Pembagian terhadap ilmu 3 bagian yaitu ilmu teoritis,  praktis, produktif.
Christian Wolf membagi filsafat menjadi :  filsafat pertama, ontology, teologi, psikologi rasional, etika dan teori pengetahuan disiplin ini menjadi 3 bagian  : teoritis, praktis, dan kretiologis.
4.         PENGERTIAN FILSAFAT PANCASILA
            Pancasila dapat digolongkan sebagai filsafat dalam arti produktif, sebagai pandangan hidup, dan dalam arti praktis. Ini berarti filsafat pancasila mempunyai fungsi dan peranan sebagai pedoman pegangan dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.
            Pancasila sebagai filsafat mengandung pandangan, nilai, dan pemikiran yang dapat menjadi subtansi dan isi embentukan ideology pancasila. Menurut Ruslan Abdul Gani pancasila dikatakan sebagai filsafat karena pancasila merupakan hasil perenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh the founding father kita, yang dituangkan dalam suatu system.
            Pancasila dapat didefinisikan secara ringkas sebagai refleksi kritis dan rasional tentang pancasila sebagai dasar Negara dan kenyataan budaya bangsa dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh.
            Kalau dibedakan dengan filsafat yang religious dan non religious, maka filsafat pancasila tergolong filsafat yang religious. Ini berarti bahwa filsafat pancasila dalam kebijaksanaan dan kebenaran mengenal adanya  kebenaran mutlak yang berasal dari Tuhan yang maha Esa.
             Jika filsafat dibedakan dalam arti teoritis dan filsafat dalam arti praktis, filsafat pancasila diggolongkan dalam arti praktis. Ini bearti bahwa filsafat pancasila didalam mengadakan pemikiran yang sedalam-dalamnya, tidak hanya bertujuan mencari kebenaran dan kebijaksanaan tidak sekedar untuk memenuhi hasrat iningin tahu dari manusia yang  tidak habis-habisnya. Tetapi juga terutama  hasil pemikiran yang berwujud filsafat pancasila tersebut dipergunakan sebagai pedoman hidup sehari-hari.
            Selanjutnya Filsafat Pancasila mengukur adanya kebenaran yang bermacam-macam dan bertingkat-tingkat sebagi berikut :
a.                   Kebenaran indra (pengetahuan biasa )
b.                  Kebenaran ilmiah (ilmu-ilmu penegetahuan )
c.                   Kebenaran filosofis ( filsafat )
d.                  Kebenaran religius ( religi )
Untuk lebih meyakinkan bahwa pancasila itu adalah ajaran filsafat sebaiknya kita kutip ceramah Mr.Moh Yamin pada seminar pancasila di Yogyakarta tahun 1959 yang berjudul “Tinjauan Pancasila Terhadap Revolusi Fungsional “ yang isinya sebagai berikut :
Tinjauan pancasila adalah tersusun secara harmonis dalam satu system filsafat. Marilah kita peringatkan secara ringkas bahwa ajaran pancasila itu dapat kita tinjau menurut para ahli filsafat ulung, yaitu Friedrich Hegel (1770-1831) bapak dari filsafat Evolusi  Kehewanan menurut Darwin Haeckel, serta juga bersangkut paut dengan filsafat kerohanian.
            Menurut Hegel hakikat filsafat ialah suatu sintesa pikiran yang lahir dari antitesa  Pikiran.
Saya tidak mau menyulap imgatlah kalimat pertama dan Mukadimah UUD Republik Indonesia 1945 yang disdurkan dengan tadi bunyi  : Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
            Kalimat pertama ini adalah sintesa yaitu antara penjajahan dan perikemanusiaan dan perikeadilan. Pada saat sintesa sudah hilang, maka lahirlah kemerdekaan  dan kemerdekaan itu kita susun menurut ajaran falsafah Pncasila yang disebut dengan terang dalam Mukadimah konstitusi RIS tahun 1950 itu yang berbunyi : maka dengan ini kami menyusun  kemerdekaan kami itu, dalam suatu piagam Negara yang berbentuk Republik Kesatuan berdasarkan ajaran  Pancasila. Disini disebut sila ke 5 untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan dan perdamaian dunia dan kemerdekaan. Kalimat ini jelas kalimat antitesa. Sintesa kemerdekaan kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat.